Share

Manusia Bisa Merencanakan, tapi Allah yang Menentukan: Makna Panggilan Haji

KBIHU DT — Setiap insan beriman pasti menyimpan satu kerinduan yang mendalam, yakni menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Namun tidak semua yang merindukan, langsung Allah undang. Sebab panggilan haji bukan semata-mata tentang kemampuan materi, melainkan pilihan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Menanti Panggilan Allah dengan Ikhtiar dan Doa

Banyak orang telah lama menanti giliran berhaji. Tahun demi tahun berlalu, usia terus bertambah, sambil mengumpulkan pundi-pundi harta. Namun tak jarang, usia bertambah sementara kemampuan masih terasa sama. Hingga muncul pertanyaan lirih dalam hati, “Apakah saya akan pergi haji?”

Padahal Allah Ta‘ala berulang kali mengingatkan tentang kekuatan doa. Ikhtiar yang keras saja tidak cukup mengubah ketentuan-Nya tanpa disertai doa dan ketundukan hati. Sebab mengunjungi Baitullah di Makkah adalah panggilan istimewa yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang Allah panggil (untuk menunaikan haji), maka ia akan datang menunaikan haji; dan barang siapa yang tidak dipanggil, maka ia tidak akan mampu berangkat.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Imān)

Hadits ini mengingatkan bahwa tidak semua perjalanan menuju Ka‘bah dimulai dari langkah kaki, melainkan dari getaran hati yang dijawab oleh Allah.

Ikhtiar untuk Memantaskan Diri, Bukan Menentukan Takdir

Manusia tetap wajib berikhtiar. Namun niat yang menganggap ikhtiar sebagai cara “memastikan” keberangkatan haji perlu diluruskan. Ikhtiar sejatinya adalah upaya memantaskan diri agar layak ditolong Allah.

Memantaskan diri bisa dimulai dari hal-hal sederhana: memperbaiki shalat, menjaga amanah, menebar kebaikan, serta menyucikan hati dari keluh kesah dan prasangka buruk kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Menunggu dengan Syukur adalah Bentuk Keimanan

Bertahun-tahun menunggu giliran berhaji dengan hati yang tetap bersyukur merupakan bukti keistiqamahan niat. Bisa jadi Allah belum memanggil bukan karena menolak, melainkan karena sedang mempersiapkan waktu terbaik bagi hamba-Nya.

Maka janganlah gelisah jika langkah belum sampai ke Tanah Suci. Bisa jadi Allah sedang membersihkan hati, meluruskan niat, dan menyiapkan saat terbaik agar kita datang sebagai tamu-Nya dengan jiwa yang lebih siap.

Karena tidak ada doa yang sia-sia di sisi Allah—hanya waktunya saja yang belum sesuai dengan kehendak-Nya.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X