Share

Shalat sebagai Terapi Ketenangan Jiwa dalam Perspektif Islam

Klinik DT – Pernahkah sahabat membayangkan bahwa di balik jiwa yang penuh gejolak, terdapat hubungan langsung dengan langit yang setiap hari kita pandangi? Jiwa beserta segala keresahan di dalamnya merupakan bagian dari skenario Allah Ta’ala yang telah dirancang dengan sempurna. Namun, sering kali manusia lupa ke mana harus mencari jawaban atas kegelisahan yang dirasakan.

Ketenangan jiwa yang selama ini dicari manusia sejatinya telah Allah jelaskan secara gamblang dalam Al-Qur’an:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati lahir dari dzikrullah, yaitu mengingat Allah. Salah satu bentuk dzikir yang paling utama dan terus-menerus dilakukan oleh seorang Muslim adalah shalat lima waktu, yang menjadi rukun utama dalam kehidupan seorang hamba.

Gurunda Aa Gym kerap menyampaikan dalam tausiyahnya:

“Kalau hati sedang gelisah, segeralah ambil wudhu dan shalat. Karena shalat itu bukan hanya menggugurkan kewajiban, tapi obat hati untuk menenangkan pikiran.”

Kegelisahan dan ketenangan bagaikan racun dan penawar. Di antara keduanya, Allah menghadirkan shalat sebagai terapi ruhiyah yang membersihkan hati, menenangkan pikiran, serta menata kembali hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Muhammad Karim, seorang psikolog Muslim, menjelaskan:

“Shalat yang dilakukan dengan kesadaran penuh (khusyuk) membantu seseorang mengalihkan fokus dari tekanan dunia luar menuju kedamaian batin yang bersumber dari keyakinan kepada Allah.”

Dunia dengan segala hiruk-pikuknya membutuhkan arah yang menuntun kepada kebenaran. Dan manusia yang mencari kedamaian sejati akan menemukannya dalam ketenangan shalat. Sebab, seorang Muslim yang menjaga shalatnya akan hadir dengan hati yang lebih bersih, pikiran yang lebih jernih, serta akhlak yang semakin mulia.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menjadikan shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga tempat pulang bagi hati yang lelah.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X