Share

Menyiapkan Kader Umat di Era Tantangan Zaman

PDF DT – Menjadi santri di era penuh tantangan saat ini bukan sekadar menuntut ilmu, tetapi juga menyiapkan diri sebagai kader umat. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba digital, santri hadir bukan hanya untuk memahami kitab, melainkan juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang menumbuhkan peradaban.

Perjalanan seorang santri ibarat rangkaian jihad intelektual dan ruhiyah. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan demi belajar di tempat yang mengajarkan kesederhanaan, kemandirian, serta kedekatan kepada Allah Ta’ala. Pendidikan di pesantren bukan hanya tentang ilmu agama, tetapi juga proses membangun karakter dan menyiapkan pribadi yang siap memimpin dengan hati yang lurus.

Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan menginspirasi banyak orang. Seorang kader umat dituntut mampu membawa masyarakat menuju pembaharuan yang dibutuhkan zaman—perubahan yang tidak hanya berbasis gagasan, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai iman. Dunia hari ini membutuhkan sosok pemimpin yang kuat akalnya dan lembut hatinya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 104)

Ayat ini menegaskan pentingnya melahirkan generasi penggerak kebaikan. Di sinilah pendidikan Islam, khususnya pesantren, memainkan peran strategis. Pesantren tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk insan yang tangguh secara spiritual dan sosial.

Menjadi santri berarti siap hidup dengan disiplin, menuntut ilmu sejauh mungkin, serta belajar dari setiap perjalanan. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim no. 2699)

Perjalanan menuntut ilmu bukan hanya langkah kaki, tetapi juga perjalanan hati. Setiap langkah santri—dari asrama ke masjid, dari kitab ke realitas kehidupan—adalah bagian dari proses menempa diri agar kelak mampu menjadi pelita di tengah masyarakat.

Terlebih ketika ilmu yang diperoleh digunakan untuk kemaslahatan umat. Dunia saat ini sangat membutuhkan pemimpin berakhlak, yang bijak menyikapi derasnya arus informasi dan teknologi. Sebab sejatinya, kader umat bukan hanya lahir dari kecerdasan akal, tetapi dari kejernihan hati serta keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat.

Semoga dari rahim pesantren dan lembaga pendidikan Islam terus lahir generasi yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menggerakkan kebaikan dan menebar keberkahan.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X