Share

Cinta kepada Al-Qur’an: Getaran Kalamullah yang Menenangkan Hati

Baitul Qur’an — Memuliakan Al-Qur’an merupakan salah satu adab utama bagi setiap santri dan seluruh umat Muslim. Sebab Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan kalamullah — firman Allah Ta’ala yang sempurna, tanpa campur tangan makhluk sedikit pun.

Membacanya, menghafalkannya, memahami maknanya, hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari adalah wujud nyata dari cinta kepada Al-Qur’an. Dari situlah lahir ketenangan jiwa dan kekuatan iman.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌۙ فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍۙ لَا يَمَسُّهٗۤ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ
“Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah bacaan yang sangat mulia, yang tersimpan dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak disentuh kecuali oleh hamba-hamba yang disucikan.”
(QS. Al-Wāqi‘ah [56]: 77–79)

Ayat ini menegaskan kemuliaan Al-Qur’an serta pentingnya adab dan kesucian hati dalam berinteraksi dengannya.


Cinta yang Menyatu dengan Kalamullah

Bagaimana Al-Qur’an bisa melekat di hati, jiwa, dan kehidupan seseorang? Jawabannya adalah cinta yang tumbuh dan dijaga. Cinta inilah yang membuat hati selalu rindu membuka mushaf, rindu memperbaiki bacaan, dan rindu mengulang hafalan — meski di tengah lelahnya aktivitas dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)

Cinta kepada Al-Qur’an tidak hadir secara instan. Ia tumbuh dari niat yang lurus dan kesungguhan untuk istiqamah. Ketika setiap interaksi dengan Al-Qur’an diniatkan karena Allah, maka setiap huruf yang dibaca menjadi cahaya yang menenangkan hati dan menumbuhkan keteguhan iman.


Waktu yang Sama, Niat yang Berbeda

Setiap manusia diberi waktu yang sama — dua puluh empat jam dalam sehari. Namun yang membedakan satu dengan yang lain adalah bagaimana dan untuk apa waktu itu digunakan.

Waktu akan bernilai ketika diisi dengan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, termasuk menjaga hubungan dengan Al-Qur’an. Menahan diri agar tetap istiqamah menghafal, melawan rasa malas, menundukkan nafsu agar fokus, serta bersabar dalam muraja’ah ayat demi ayat — semua itu adalah bagian dari jihad melawan diri sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar [54]: 17)

Ayat ini menjadi penguat bahwa kesulitan dalam belajar Al-Qur’an selalu disertai dengan kemudahan dari Allah bagi hamba yang bersungguh-sungguh.


Ketika Cinta Dijaga, Kalam-Nya Akan Menjaga

Sesuatu yang dicintai akan selalu diusahakan dan dijaga dengan cara yang mulia. Begitu pula dengan Al-Qur’an. Ia akan menetap di akal dan hati seseorang ketika didekati dengan niat yang tulus, adab yang baik, dan akhlak yang santun.

Al-Qur’an adalah sumber kehidupan, cahaya di dunia, dan penolong di akhirat. Maka mengenalnya, mempelajarinya, dan mencintainya adalah jalan agar kelak kita pantas mendapatkan penjagaan dan syafaat darinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.”
(HR. Muslim)

Cinta kepada Al-Qur’an bukan hanya terucap di lisan, tetapi tercermin dalam setiap langkah kehidupan. Semakin sering kita berinteraksi dengannya, semakin halus pula getaran cinta kalamullah yang tumbuh dan menguat di dalam hati.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X