Syukur sebagai Jalan Menemukan Cinta Sejati dan Ketenangan Hati
DKM DT — Manusia adalah ciptaan Allah Ta’ala yang paling sempurna. Ia dibekali akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan, dua anugerah yang menjadikan manusia mampu menimbang setiap perbuatan agar melahirkan kebaikan yang menenangkan jiwa.
Di antara amalan yang paling kuat menghadirkan ketenangan hati adalah bersyukur. Syukur bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan kesadaran batin yang mengakui bahwa setiap nikmat berasal dari Allah dan berada dalam genggaman-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِيۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيۚ إِنَّ رَبِّي غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sungguh, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Yusuf [12]: 53)
Ayat ini mengingatkan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat nafsu yang selalu mendorong pada rasa kurang dan ketidakpuasan terhadap nikmat Allah.
Mengendalikan Nafsu dengan Syukur dan Dzikir
Nafsu yang terus merasa kurang hanya dapat dikendalikan oleh hati yang lembut dan bersih, hati yang senantiasa menghadirkan nama Allah dalam setiap hembusan hidupnya. Hati yang hidup dengan dzikrullah tidak mudah goyah, karena ia menyadari bahwa Allah selalu hadir, melihat, dan menjaga setiap langkah hamba-Nya.
Dari sinilah lahir cinta sejati. Bukan cinta yang bersumber dari keinginan yang tak pernah usai, tetapi cinta yang tumbuh dari rasa cukup. Rasa cukup karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Mengatur, dan Maha Mencukupi.
Ketika iman digoda oleh nafsu untuk menjauh dari Allah dan terus merasa kurang, maka kekuatan itu akan kalah oleh kuasa Allah Yang Maha Besar. Dengan cinta dari Allah, kehidupan seorang hamba akan dibalut keberkahan yang menenangkan.
Syukur yang Mengundang Kasih Allah
Allah Ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku).”
(QS. Al-Baqarah [2]: 152)
Betapa lembut kasih Allah kepada hamba-Nya. Ketika kita mengingat-Nya dengan penuh cinta dan syukur, Allah pun mengingat kita dengan karunia yang jauh lebih besar.
Syukur menjadikan hati mudah tenang. Cinta kepada Allah menjadikan hidup terasa cukup. Dan dari keduanya lahir keberkahan yang tiada henti.
Menjaga Hati agar Tetap Dekat dengan Allah
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Namun kitalah yang sering kali menjauh ketika hati dipenuhi keluh dan lupa akan nikmat. Maka jangan biarkan hati jauh dari Allah. Dekatkanlah ia dengan dzikir, syukur, dan keyakinan penuh kepada-Nya.
Sebab dari hati yang dekat dengan Allah, akan lahir ketenangan, kecukupan, dan cinta sejati yang menuntun hidup menuju keberkahan.
Baarakallahu fiikum.
(Irwina)

