Share

Keteguhan Iman yang Lama Hilang

Baitul Quran — Kereta yang akan berangkat tidak akan menunggu penumpang yang terlambat. Begitu pula kematian; ia tidak menanti kesiapan manusia. Semuanya berjalan sesuai waktu dan ketetapan yang telah Allah tetapkan sejak lama.

Kesadaran akan ketetapan inilah yang seharusnya mengajak manusia untuk terus bercermin—dalam niat, dalam ikhtiar, hingga dalam doa-doa yang dipanjatkan. Sebab pada akhirnya, setiap rencana manusia akan kembali pada satu rumus yang paling hakiki: Allah-lah yang menentukan segalanya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Mereka membuat rencana, dan Allah pun membuat rencana. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.”
(QS. Ali Imran: 54)

Manusia boleh merencanakan banyak hal. Namun keputusan terbaik tetap berada di tangan Allah. Sebab iman manusia bisa naik dan turun, keinginan mudah berubah, dan pertimbangan sering kali dipengaruhi emosi, tekanan lingkungan, bahkan opini media sosial. Sedangkan Allah Maha Mengetahui, Maha Adil, dan Maha Bijaksana dalam setiap ketetapan-Nya.

Allah kembali mengingatkan:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ…
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menjadi obat bagi hati yang sering bimbang, terlebih bagi generasi hari ini yang hidup di tengah arus informasi yang cepat dan tuntutan hidup yang serba instan. Generasi Z—yang tumbuh dengan tekanan ekspektasi, perbandingan sosial, dan pencarian validasi—sering lupa bahwa tidak semua keinginan harus terwujud, dan tidak semua yang terjadi harus sesuai rencana.

Justru di situlah letak latihan iman: percaya kepada takdir Allah lebih kuat daripada apa pun yang tampak di depan mata.


Ketika Keteguhan Iman Mulai Memudar

Keteguhan iman bukan hilang karena zaman berubah, tetapi karena hati semakin jarang disambungkan dengan Al-Qur’an. Banyak orang mencari ketenangan lewat hiburan, pencapaian, atau pengakuan manusia, padahal ketenangan sejati berada dalam zikir dan ayat-ayat Allah.

Keimanan dan kebaikan berjalan beriringan. Keduanya saling menguatkan. Ketika seseorang membiasakan diri berbuat baik—meski kecil, meski sederhana—Allah akan menumbuhkan ketenangan dan keyakinan di dalam hatinya. Dari keyakinan itulah iman menjadi kokoh: yakin bahwa apa pun keputusan Allah adalah yang terbaik.


Untuk Gen Z yang Sedang Mencari Arah

Setiap mimpi, pilihan hidup, dan rencana masa depan memang membutuhkan ikhtiar yang besar. Namun hasilnya bukan berada di tangan manusia. Allah-lah yang menilai kepantasan seorang hamba—apakah ia layak ditolong, dimudahkan, atau dinaikkan derajatnya.

Karena itu, iman perlu dilatih dengan membiasakan diri untuk:

  • Tidak mudah gundah ketika rencana tidak berjalan sesuai keinginan
  • Tidak mudah iri ketika jalan hidup orang lain terlihat lebih mudah
  • Tidak mudah ragu ketika langkah terasa lebih lambat dibanding teman sebaya

Jika Allah yang menulis takdir, maka tidak ada satu pun takdir yang salah. Yang menjadi masalah adalah ketika seorang hamba menjauh dari Al-Qur’an dan kehilangan keteguhan imannya.

Maka, sebaik-baik usaha adalah membiasakan kebaikan di mana pun berada. Sebab kebaikanlah yang menjaga hati tetap hidup, dan iman tetap teguh, di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X