Share

Dunia Sementara, Akhirat Selamanya: Meluruskan Orientasi Hidup Seorang Muslim

DKM DT — Dunia adalah persinggahan sementara yang Allah sediakan sebagai jembatan menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Namun, realitanya tidak sedikit manusia yang justru terjebak dalam gemerlap dunia, seolah-olah ia adalah tujuan akhir kehidupan.

Pernahkah kita mengikuti tren terbaru—menunggu peluncuran berikutnya, meski barang sebelumnya belum benar-benar usang? Fenomena ini menjadi gambaran nyata bagaimana nafsu sering kali lebih dominan dibanding kesadaran akan keterbatasan dunia.

Gurunda KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) pernah menyampaikan pesan yang sederhana namun penuh hikmah:

“Kalau ingin mendapatkan barang yang terbaru, tunggulah sebulan setelah yang terakhir keluar. Jika itu benar-benar yang terakhir, belilah. Namun jika masih ada yang lebih baru, tahanlah dulu sampai betul-betul yang terakhir.”

Pesan ini mengajarkan tentang mengendalikan ego dan menahan nafsu, agar manusia tidak selalu terjebak dalam keinginan untuk memiliki hal-hal baru yang sejatinya tidak pernah ada ujungnya.


Ketenangan Hidup Berasal dari Rasa Cukup

Ketenangan sejati tidak lahir dari banyaknya kepemilikan, melainkan dari hati yang mampu merasa cukup. Islam mengajarkan bahwa rasa cukup (qana’ah) adalah salah satu kunci kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Segala urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur, maka itu baik baginya.”
(HR. Muslim No. 2999)

Syukur menjadikan nikmat terasa lapang dan menenangkan. Lebih dari itu, syukur adalah investasi amal yang kelak menjadi pemberat timbangan di akhirat. Nikmat dunia yang disyukuri dengan benar akan berubah menjadi pahala yang kekal.


Dunia Ada Batasnya, Akhirat Tujuan Utamanya

Jika setiap kenikmatan dunia yang kita miliki bisa menjadi jalan keselamatan di akhirat, mengapa justru dunia yang sementara dijadikan tujuan utama? Dunia memiliki batas, usia memiliki akhir, dan semua yang dimiliki pasti akan ditinggalkan.

Karena itulah seorang muslim perlu meluruskan orientasi hidup. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi juga bukan untuk dicintai secara berlebihan. Dunia adalah sarana, sedangkan akhirat adalah tujuan.

Ketika akhirat dijadikan prioritas, maka:

  • Hati lebih tenang menghadapi kehilangan
  • Iman lebih kuat dalam menghadapi ujian
  • Hidup lebih terarah dan bermakna

Allah tidak melarang menikmati dunia, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menguasai hati.


Menjadikan Akhirat sebagai Kompas Kehidupan

Orientasi hidup yang benar akan melahirkan pribadi yang bijak dalam menyikapi nikmat, sabar dalam ujian, dan kuat dalam iman. Dengan menjadikan akhirat sebagai kompas kehidupan, setiap langkah di dunia akan bernilai ibadah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga hati kita agar tidak terikat pada yang sementara, dan menguatkan langkah kita menuju kehidupan yang selamanya.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X