Pendidikan Tak Harus Tinggi, Tapi Mimpi Wajib Berdiri: Ikhtiar Menuntut Ilmu dan Meraih Masa Depan
PKBM Daarut Tauhiid — Di tengah era yang serba cepat dan kompetitif, pendidikan formal kerap dijadikan tolok ukur utama dalam menentukan peluang kerja dan masa depan seseorang. Banyak instansi menetapkan jenjang pendidikan tertentu sebagai pintu awal untuk melangkah. Akibatnya, mereka yang memiliki latar pendidikan formal lebih rendah sering kali dipandang memiliki kesempatan yang lebih sempit.
Padahal, tingginya pendidikan formal tidak selalu berbanding lurus dengan tingginya kemampuan dan keterampilan (skill). Tidak sedikit orang yang tidak menamatkan pendidikan hingga jenjang atas, namun mampu bangkit dan berkembang melalui pengalaman, ketekunan, serta kerja keras yang konsisten. Fakta ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah proses seumur hidup, bukan semata-mata gelar atau ijazah.
Pentingnya Pendidikan dan Menuntut Ilmu dalam Islam
Islam sangat menekankan urgensi pendidikan dan pencarian ilmu. Ilmu menjadi cahaya yang membimbing manusia dalam menjalani kehidupan dan mengambil keputusan yang benar. Allah Ta’ala berfirman:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”
(QS. Al-Mujadalah: 11)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Dalil-dalil ini menegaskan bahwa pendidikan—baik formal maupun nonformal—adalah jalan mulia untuk mengangkat derajat manusia. Menuntut ilmu tidak terbatas pada ruang kelas atau ijazah semata, tetapi mencakup proses pengembangan diri, pengasahan keterampilan, serta perluasan wawasan dalam berbagai aspek kehidupan.
Mimpi sebagai Harapan yang Allah Tanamkan
Ketika kesempatan menempuh pendidikan tinggi belum terwujud, bukan berarti jalan hidup terhenti. Di dalam diri setiap manusia, Allah tanamkan mimpi dan harapan sebagai penunjuk arah. Mimpi adalah bahan bakar perjalanan hidup yang menjaga semangat agar tidak padam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mimpi itu ada tiga: mimpi baik sebagai kabar gembira dari Allah, mimpi buruk dari setan, dan mimpi tentang apa yang dipikirkan manusia.”
(HR. Muslim)
Mimpi yang baik dan mulia merupakan bagian dari kabar gembira dari Allah. Ia menjadi tanda bahwa Allah memberi harapan sekaligus arah untuk dikejar dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, mimpi yang membawa pada kebaikan hendaknya dipelihara, ditumbuhkan, dan dijadikan sumber motivasi untuk terus melangkah maju.
Tekad Besar, Usaha Nyata, dan Jalan yang Beragam
Mimpi yang besar akan melahirkan tekad yang kuat. Dengan tekad itulah, jalan yang sulit dapat dilalui setahap demi setahap. Pendidikan—baik tinggi maupun dasar—merupakan salah satu sarana untuk menjadikan mimpi lebih realistis dan terarah. Ada yang menempuh pendidikan formal, ada pula yang memilih jalur nonformal seperti PKBM, pelatihan keterampilan, kursus, serta pembelajaran dari pengalaman kerja.
Allah Ta’ala mengingatkan:
“Dan manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan cukupkan baginya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Ayat-ayat ini menegaskan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Manusia diwajibkan untuk berusaha semampunya, sementara hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah, sebaik-baik Pengatur kehidupan.
Mimpi Tetap Berdiri, Ikhtiar Terus Berjalan
Maka, jangan pernah merasa minder apabila pendidikan formal belum setinggi yang diharapkan. Yang terpenting adalah mimpi tetap berdiri tegak, tekad terus tumbuh, dan ikhtiar tidak pernah berhenti. Setiap orang memiliki jalan masing-masing untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Semoga Allah memberkahi setiap langkah kita dalam menuntut ilmu, menguatkan tekad dalam mengejar mimpi, serta membukakan jalan kebaikan melalui berbagai ikhtiar yang dijalani.
Baarakallahu fiikum.
(Irwina)

