Gapapa Mengeluh, Asal Nggak Jenuh
PKBM DT — Ada masa ketika pikiran terasa penuh dan tubuh ikut melemah. Rutinitas berjalan, tanggung jawab terus datang, sementara energi terasa menipis. Di titik inilah keinginan untuk berhenti sejenak sering muncul—bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengambil jeda agar bisa kembali melangkah lebih jauh.
Rasa jenuh kerap lahir dari kelelahan yang menumpuk, baik secara fisik maupun mental. Bahkan saat aktivitas fisik tidak terlalu berat, lelahnya pikiran dapat memberi dampak yang sama besar terhadap kondisi tubuh dan emosi.
Digital Overload dan Kejenuhan Mental
Fenomena ini dijelaskan dalam Digital Overload Theory, yang berakar dari pemikiran Alvin Toffler (1970) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Gloria Mark (UCI, 2020). Teori ini menerangkan bagaimana paparan teknologi digital yang berlebihan dapat memicu kejenuhan, terutama pada pekerja dan generasi muda.
Hampir seluruh aktivitas kini berlangsung melalui gawai yang nyaris 24 jam berada dalam genggaman. Teknologi memang memudahkan banyak hal, namun jika tidak dikelola dengan bijak, ia dapat menimbulkan kelelahan mental, ketergantungan, serta penurunan sensitivitas dopamin. Akibatnya, aktivitas yang sebelumnya terasa ringan dan menyenangkan perlahan menjadi membosankan.
Kemudahan teknologi jangan sampai menyeret manusia untuk bekerja tanpa henti. Manusia bukan mesin yang mampu terus bergerak tanpa istirahat. Mengambil jeda bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan dalam menjaga diri dan keberlanjutan ikhtiar.
Islam Mengajarkan Keseimbangan
Allah Ta’ala mengingatkan pentingnya keseimbangan antara usaha dan harapan:
“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah berusaha (dalam urusan lainnya). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”
(QS. Al-Insyirah: 7–8)
Ayat ini mengajarkan bahwa hidup adalah rangkaian usaha yang disertai pengharapan kepada Allah, bukan paksaan tanpa henti yang mengabaikan kondisi diri.
Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa manusia memiliki fase naik dan turun dalam beramal:
“Setiap amal itu ada masa semangatnya dan ada masa lelahnya.”
(HR. Ahmad)
Mengeluh pada batas wajar adalah hal yang manusiawi. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keluhan berubah menjadi kejenuhan berkepanjangan yang mematikan semangat dan harapan.
Ambil Jeda, Bukan Menyerah
Memberi ruang bagi diri sendiri—beristirahat, mengatur ulang ritme, dan menenangkan pikiran—adalah bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan mental dan spiritual. Jeda yang tepat justru membantu kita kembali melangkah dengan arah yang lebih jernih dan niat yang lebih lurus.
Ambillah jeda sebelum jenuh menguasai pikiran. Rawat diri, atur ulang energi, dan kembalikan harapan hanya kepada Allah.
Baarakallahu fiikum.
(Irwina)

