Share

Mengapa Anak Percaya Diri di Balik Layar, tetapi Gugup Saat Berbicara Langsung?

Di era digital seperti sekarang, anak-anak dan remaja semakin terbiasa berkomunikasi melalui layar. Mereka dapat dengan mudah mengirim pesan, memberikan komentar, membuat konten, bahkan menyampaikan berbagai pendapat melalui media sosial.

Namun, tidak sedikit anak yang terlihat sangat aktif ketika berkomunikasi secara digital, tetapi justru menjadi gugup ketika harus berbicara secara langsung.

Mereka mungkin memiliki banyak ide, tetapi bingung bagaimana menyampaikannya. Mereka sebenarnya mengetahui jawabannya, tetapi ragu mengangkat tangan. Atau ketika diminta berbicara di depan kelas, tiba-tiba merasa takut salah, malu, atau tidak percaya diri.

Apakah kondisi seperti ini berarti anak tidak memiliki kemampuan komunikasi yang baik?

Belum tentu.

Rasa gugup ketika berbicara di depan orang lain merupakan hal yang wajar. Kemampuan berbicara dengan percaya diri juga bukan sesuatu yang selalu muncul dengan sendirinya. Keterampilan tersebut perlu dibangun melalui pengalaman, latihan, dan lingkungan yang mendukung.

Mengapa Anak Bisa Lebih Percaya Diri di Balik Layar?

Berkomunikasi melalui layar memberikan ruang yang berbeda dibandingkan berbicara secara langsung.

Saat mengetik pesan, misalnya, anak memiliki waktu untuk memikirkan kata-kata yang akan digunakan. Mereka juga tidak harus berhadapan langsung dengan ekspresi atau reaksi orang lain.

Berbeda ketika berbicara secara langsung. Anak harus menyusun pikiran sekaligus, memilih kata yang tepat, menjaga sikap, memperhatikan lawan bicara, dan menghadapi kemungkinan adanya penilaian dari orang lain.

Bagi sebagian anak, situasi tersebut dapat menimbulkan rasa gugup.

Karena itu, Ayah Bunda tidak perlu langsung memberikan label bahwa anak “tidak percaya diri”. Bisa jadi, anak hanya belum memiliki cukup kesempatan untuk berlatih.

Percaya Diri Bukan Berarti Harus Selalu Banyak Bicara

Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa anak yang percaya diri tidak selalu menjadi anak yang paling banyak berbicara.

Kepercayaan diri justru terlihat ketika anak mampu menyampaikan apa yang dipikirkan dengan baik, berani bertanya ketika belum memahami sesuatu, mampu mengungkapkan pendapat tanpa merendahkan orang lain, serta berani mengakui ketika melakukan kesalahan.

Dengan demikian, kemampuan komunikasi bukan hanya tentang seberapa lancar seorang anak berbicara.

Lebih dari itu, anak perlu belajar apa yang ingin disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, dan kapan waktu yang tepat untuk berbicara.

Inilah mengapa kemampuan public speaking dapat menjadi salah satu keterampilan penting untuk dikenalkan sejak usia remaja.

Mengapa Public Speaking Penting bagi Anak dan Remaja?

Kemampuan berbicara akan terus digunakan dalam berbagai tahap kehidupan.

Di sekolah, anak mungkin perlu melakukan presentasi atau menyampaikan pendapat dalam diskusi. Ketika mengikuti organisasi, mereka akan bertemu dengan berbagai karakter dan dituntut untuk berkomunikasi dengan baik.

Begitu pula ketika memasuki dunia perkuliahan dan pekerjaan. Kemampuan menyampaikan ide, melakukan presentasi, berdiskusi, hingga berbicara di depan banyak orang akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bahkan lebih jauh lagi, kemampuan komunikasi dapat menjadi salah satu bekal dalam membangun kepemimpinan.

Anak yang memiliki gagasan baik perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan gagasan tersebut agar dapat dipahami dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Bagaimana Ayah Bunda Bisa Melatih Keberanian Anak?

Kemampuan berbicara tidak harus selalu dilatih melalui kegiatan formal. Lingkungan keluarga pun dapat menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar berkomunikasi.

Berikut beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan:

1. Berikan kesempatan anak untuk menyampaikan pendapat

Ketika berdiskusi bersama keluarga, cobalah memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pandangannya.

Tidak harus selalu tentang hal besar. Pertanyaan sederhana seperti, “Menurut kamu bagaimana?” dapat menjadi awal yang baik untuk melatih anak menyampaikan pikirannya.

2. Biasakan anak bercerita

Ayah Bunda dapat mengajak anak menceritakan kegiatan yang dilakukan hari itu, pengalaman yang menarik, atau hal yang sedang dipelajari.

Kebiasaan sederhana ini membantu anak belajar menyusun cerita dan menyampaikan informasi secara runtut.

3. Jangan hanya fokus pada kesalahan

Ketika anak salah mengucapkan sesuatu atau belum mampu menyampaikan pendapat dengan baik, berikan masukan dengan cara yang membangun.

Anak perlu merasa bahwa melakukan kesalahan ketika belajar adalah sesuatu yang wajar.

Jika setiap kesalahan langsung mendapat kritik, anak justru dapat semakin takut untuk berbicara.

4. Latih secara bertahap

Tidak semua anak harus langsung diminta berbicara di depan banyak orang.

Latihan dapat dimulai dari lingkungan yang membuat anak merasa nyaman. Misalnya berbicara di depan keluarga, kemudian beberapa teman, kelompok kecil, hingga akhirnya tampil di depan audiens yang lebih banyak.

5. Apresiasi keberaniannya

Ketika anak berani mencoba, berikan apresiasi terhadap proses tersebut.

Bukan hanya ketika penampilannya sempurna, tetapi ketika ia berani maju, mencoba menyampaikan pendapat, dan belajar dari pengalaman.

Sebab, kepercayaan diri tumbuh dari keberanian-keberanian kecil yang dilakukan secara berulang.

Public Speaking dan Pembentukan Karakter

Pada akhirnya, public speaking bukan sekadar tentang bagaimana berbicara dengan lancar atau tampil menarik di depan banyak orang.

Kemampuan berbicara perlu berjalan bersama karakter yang baik.

Anak perlu belajar menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, menghargai orang lain ketika berbicara, mendengarkan ketika orang lain menyampaikan pendapat, serta bertanggung jawab atas apa yang disampaikannya.

Karena itu, tujuan dari belajar public speaking bukan sekadar membuat anak menjadi pandai berbicara.

Lebih dari itu, anak diharapkan memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan, kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, dan karakter yang dapat membawa pengaruh positif bagi lingkungan di sekitarnya.

GenBaku Public Speaking for Teens: Ruang Belajar untuk Tumbuh Lebih Berani

Bagi Ayah Bunda yang ingin memberikan ruang latihan public speaking yang lebih terarah bagi putra-putrinya, GenBaku Public Speaking for Teens kembali hadir setelah terlaksananya batch 1 dan 2.

Dalam program ini, peserta tidak hanya belajar teknik dasar public speaking, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berlatih menyusun gagasan, mengatasi rasa gugup, menyampaikan materi, hingga mendapatkan pengalaman tampil secara langsung.

GenBaku hadir dengan semangat untuk membantu anak dan remaja tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik, dan tetap membawa nilai-nilai karakter dalam setiap perkataannya.

Jadwal GenBaku Public Speaking for Teens 2026

Batch 3 — Influence With Impact
📅 Minggu, 23 Agustus 2026
📚 Materi: Belajar menyusun struktur materi dan mengatasi rasa gugup.

Batch 4 — Speak Like a Winner
📅 Minggu, 25 Oktober 2026
📚 Materi: Belajar menyusun script dari awal hingga akhir dan full praktik.

📍 Lokasi: Masjid Daarut Tauhiid Jakarta
Jl. Cipaku I No. 43, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Ayah Bunda tidak harus menunggu anak menjadi “jago” terlebih dahulu untuk mulai belajar.

Sebab, keberanian berbicara adalah keterampilan yang dapat dilatih sedikit demi sedikit.

Setiap keberanian kecil yang dibangun hari ini, dapat menjadi bekal besar bagi masa depan.

🔗 Daftar: https://bit.ly/genbakupublicspeakingteens2026
📱 Info: 0852-8910-1111
📸 Instagram: @dteventorganizer

X