Share

Bahagia Tanpa Harus Burnout: Menjaga Jiwa Tetap Waras di Era Scroll Tanpa Henti

Klinik DT — Banyak orang mengira bahagia selalu datang dari hal-hal yang menyenangkan. Padahal, kebahagiaan sejati bukan sesuatu yang sekadar dicari, melainkan diciptakan dan diusahakan dengan kesadaran serta keseimbangan hidup.

Di era digital yang serba cepat, terutama di kalangan generasi muda dan Gen Z, kebahagiaan sering dicari melalui scroll media sosial tanpa henti. Sekilas terasa menghibur, namun jika dilakukan terus-menerus justru dapat memicu kelelahan batin yang dikenal dengan istilah burnout.

Apa Itu Burnout?

Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat tekanan yang berlangsung lama tanpa pemulihan yang memadai.

Menurut Christina Maslach & Michael Leiter (1997) melalui The Maslach Burnout Inventory, serta berbagai riset dari American Psychological Association (APA), burnout tidak hanya disebabkan oleh pekerjaan berat, tetapi juga oleh:

  • Gaya hidup yang tidak seimbang
  • Tekanan psikologis berkepanjangan
  • Hilangnya makna dan tujuan hidup

Burnout kini menjadi isu serius, khususnya di tengah budaya produktivitas tinggi dan konsumsi digital yang berlebihan.


Penyebab Burnout: Perspektif Psikologi dan Pandangan Islam

1. Beban Kerja Berlebihan (Work Overload)

Terlalu banyak tanggung jawab tanpa jeda membuat seseorang kehilangan waktu untuk memulihkan diri. Islam sejak awal telah mengajarkan prinsip keseimbangan hidup:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia…”
(QS. Al-Qashash [28]: 77)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan hidup ekstrem, tetapi hidup yang seimbang.

2. Kurang Istirahat dan Pola Hidup Tidak Sehat

Kurang tidur, pola makan tidak teratur, dan minim aktivitas fisik membuat tubuh lebih rentan terhadap stres. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.”
(HR. Bukhari, no. 5199)

Menjaga kesehatan fisik adalah bagian dari amanah yang harus ditunaikan.

3. Kehilangan Makna dan Tujuan Hidup (Loss of Meaning)

Saat seseorang menjalani aktivitas tanpa arah yang jelas, semangat hidup perlahan menurun. Hati mulai bertanya, “Untuk apa semua ini?”
Allah Ta’ala mengingatkan:

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha [20]: 124)

Makna hidup yang terhubung dengan Allah adalah kunci ketenangan jiwa.

4. Kurangnya Dukungan Sosial

Tidak adanya ruang untuk berbagi cerita dan keluh kesah membuat beban terasa semakin berat. Padahal Islam menekankan pentingnya kebersamaan:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa…”
(QS. Al-Ma’idah [5]: 2)

Manusia diciptakan untuk saling menguatkan, bukan memikul beban sendirian.

5. Perfeksionisme dan Tekanan Diri Berlebihan

Terlalu menuntut kesempurnaan dan takut gagal sering kali justru melelahkan jiwa. Allah Ta’ala menenangkan hamba-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Kesadaran ini membantu kita berdamai dengan proses dan keterbatasan diri.

6. Kurangnya Spiritualitas dan Ketenangan Iman

Penelitian modern menunjukkan bahwa spiritualitas berperan besar dalam menjaga kesehatan mental.
Koenig (Handbook of Religion and Health, 2012) menyebutkan bahwa praktik keagamaan dapat menurunkan stres dan meningkatkan ketahanan mental.

Islam telah menegaskan hal ini jauh sebelumnya:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)


Menemukan Bahagia Tanpa Harus Burnout

Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah, kerja, dan istirahat. Tubuh yang terus dipaksa tanpa jeda akan melemahkan semangat, bahkan dalam beribadah.

Merawat diri bukan bentuk kelalaian, tetapi bagian dari tanggung jawab:

  • Menjaga waktu tidur
  • Mengatur pola makan
  • Membatasi konsumsi digital
  • Memperbanyak dzikir dan syukur

Bahagia bukan berarti hidup tanpa beban, melainkan mampu menemukan makna di balik setiap ujian. Dengan hati yang tenang, iman yang kuat, dan tubuh yang sehat, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih utuh — tanpa harus terbakar oleh rutinitas.

“Dengan bersyukur dan mengingat Allah, hati menjadi tenteram, dan dari ketenangan itulah lahir kebahagiaan sejati.”

Baarakallaahu fiikum.

(Irwina)

X