Berubah Bukan Perkara Instan, tetapi Ujian Keistiqomahan dalam Hijrah
PKBM DT — Di balik sulitnya mengatur pikiran untuk berani memulai, ujian selanjutnya muncul dalam bentuk konsistensi. Istiqomah bukan hanya soal bertahan, tetapi juga tentang tanggung jawab seorang hamba terhadap niatnya. Ibadah yang istiqomah tidak lahir dalam semalam, tetapi tumbuh dari ilmu, perjuangan, dan pengorbanan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun kecil.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah bukti bahwa Allah tidak menuntut kita sempurna, tetapi menuntut kejujuran dan keteguhan dalam usaha.
Setelah seseorang berhasil memulai langkah hijrahnya, Allah kemudian mengujinya:
apakah ia sanggup bertahan, atau justru memilih untuk menyerah di tengah jalan?
Ujian itu hadir bukan untuk melemahkan, tetapi sebagai tanda bahwa Allah sedang meningkatkan derajat hamba yang bersandar hanya kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Rabb kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kalian takut dan jangan bersedih hati…’”
(QS. Fussilat: 30)
Ayat ini menjadi kekuatan bahwa setiap upaya istiqomah selalu ada jaminan pertolongan dari Allah.
Ujian Hijrah Hadir di Saat Gundah
Perubahan hati sering terjadi ketika seseorang menghadapi masa penuh gundah atau letih. Di sinilah syaitan berusaha melemahkan tekad, membuat seseorang ragu dengan pilihannya sendiri. Namun Allah telah mengingatkan:
“…Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Kegundahan bukan tanda kegagalan, tetapi tanda bahwa kita sedang berada di jalan pembentukan diri. Manusia akan sering menemui ujian yang membuatnya bertumbuh di perjalanan.
Seringkali Merasa Ingin Berhenti
Perasaan ingin berhenti adalah fitrah. Setiap manusia bisa lelah. Tetapi yang membedakannya adalah kepada siapa seseorang meminta kekuatan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
“Ya Allah, berilah hamba-Mu keteguhan dalam urusan agama.”
(HR. Tirmidzi)
Keterpautan hati pada Allah adalah energi yang membuat seseorang mampu melanjutkan langkah kecilnya, hari demi hari.
Berubahnya Niat
Hijrah kadang dimulai dengan niat yang benar, namun di perjalanan bisa berubah arah karena godaan dan fitnah dunia. Padahal pondasi istiqomah ada pada niat yang terus diperbaharui.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
(HR. Bukhari)
Maka memperbarui niat bukan tanda seseorang lemah, namun tanda bahwa seseorang berusaha menjaga kemurnian langkahnya.
Punya Ketertarikan Lain yang Mengganggu Fokus
Ketika seseorang mulai tertarik pada hal lain yang menjauhkan dari target hijrahnya, itu adalah bentuk ujian. Allah mengingatkan agar hati tidak terpecah:
“Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kalian dari jalan Allah.”
(QS. Shad: 26)
Ketertarikan baru bukan untuk dihindari, tetapi untuk melatih prioritas yang tidak menjauhkan diri dari Allah.
Melupakan Allah sebagai Sandaran
Inilah ujian terbesar dalam proses perubahan. Jika manusia bersandar pada kekuatannya sendiri, ia akan mudah jatuh. Tetapi jika bersandar kepada Allah, ia akan menemukan arah yang pasti dan lurus.
Allah berfirman:
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Bersandar kepada Allah menjadikan hati fokus dalam usaha, bukan hanya melihat hasil. Meski terkadang hasil tak sesuai dengan keinginan, namun yakin bahwa itulah ketetapan terbaik-Nya.
Istiqomah itu berat karena balasannya adalah surga. Namun, di setiap langkah menuju kebaikan akan bernilai di sisi Allah, meskipun terkadang kita tidak melihat hasilnya secara instan. Yang penting adalah terus melangkah, memulai proses sedikit demi sedikit, menjaga niat, dan bersandar penuh kepada-Nya.
Baarakallahufiikum.
(Irwina)

