Share

Istitha’ah Haji: Bekal Kesehatan Sebelum Menjadi Tamu Allah

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

QS. Ali ‘Imran: 97

Ibadah haji bukan hanya perjalanan menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan yang membutuhkan kesiapan ilmu, mental, fisik, kesehatan, dan kemampuan menjalankan rangkaian ibadah. Dalam konteks kesehatan, kemampuan tersebut dikenal dengan istilah istitha’ah kesehatan haji.

Apa Itu Istitha’ah?

Secara umum, istitha’ah berarti kemampuan. Dalam penyelenggaraan haji, kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga mencakup kemampuan jasmani dan rohani, pembekalan, serta keamanan untuk melaksanakan ibadah haji.

Sementara itu, istitha’ah kesehatan haji merupakan kemampuan jemaah dari aspek kesehatan, terutama fisik dan mental, yang dinilai melalui pemeriksaan kesehatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tujuannya agar jemaah mampu menjalankan ibadah haji sesuai tuntunan agama dengan tetap memperhatikan keselamatan dirinya dan orang lain.

Mengapa Istitha’ah Kesehatan Penting?

Haji merupakan ibadah yang membutuhkan aktivitas fisik. Jemaah akan menghadapi perjalanan panjang, berjalan kaki, perpindahan tempat, kepadatan manusia, serta kondisi lingkungan yang berbeda dengan Indonesia.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan dilakukan bukan semata-mata untuk menentukan apakah seseorang “sehat” atau “sakit”. Pemeriksaan bertujuan mengidentifikasi faktor risiko kesehatan dan mengendalikannya sejak sebelum keberangkatan, sehingga jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan lebih aman.

Apa Saja yang Diperiksa?

Penilaian istitha’ah kesehatan dilakukan melalui pemeriksaan yang komprehensif, diantaranya mencakup:

  1. Pemeriksaan medis/fisik
  2. Pemeriksaan kognitif
  3. Pemeriksaan kesehatan mental
  4. Penilaian kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari atau Activity Daily Living (ADL)

Pemeriksaan tersebut membantu tenaga kesehatan mengetahui kondisi dan faktor risiko masing-masing jemaah. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi medis.

Istitha’ah Bukan Berarti Harus Bebas dari Semua Penyakit

Memiliki penyakit tertentu tidak otomatis berarti seseorang tidak dapat memenuhi istitha’ah, yang menjadi perhatian adalah kondisi kesehatan secara keseluruhan, tingkat risiko, kemampuan menjalankan aktivitas, serta apakah kondisi tersebut dapat dikendalikan dan memungkinkan jemaah menjalankan ibadah dengan aman. Karena itu, jemaah yang memiliki penyakit kronis perlu melakukan pemeriksaan dan pengelolaan kesehatan secara teratur. Jangan menunggu sampai mendekati keberangkatan.

Bagaimana Jika Memerlukan Pendampingan?

Dalam penilaian kesehatan haji, terdapat kondisi tertentu ketika jemaah masih dapat menjalankan ibadah dengan pendampingan sesuai hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku. Artinya, penilaian kesehatan tidak hanya melihat kondisi seseorang secara hitam-putih, tetapi mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan jemaah secara menyeluruh.

Persiapkan Istitha’ah Sejak Dini

Menjaga kesehatan untuk berhaji sebaiknya tidak dimulai ketika jadwal keberangkatan sudah dekat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan calon jemaah antara lain:

  1. Periksa kesehatan secara berkala, ketahui kondisi tubuh dan faktor risiko yang dimiliki.
  2. Kendalikan penyakit yang sudah ada, jika memiliki hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau kondisi lainnya, ikuti pengobatan dan kontrol sesuai anjuran tenaga kesehatan.
  3. Tingkatkan kebugaran secara bertahap. Latihan fisik perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan masing-masing.
  4. Jaga pola makan dan berat badan. Pola makan seimbang membantu menjaga kebugaran dan mengendalikan berbagai faktor risiko penyakit.
  5. Siapkan kesehatan mental. Kesiapan menghadapi perjalanan panjang, perubahan lingkungan, kepadatan jemaah, dan aktivitas ibadah juga merupakan bagian penting dari persiapan.
  6. Ikuti pemeriksaan resmi. Jalani seluruh tahapan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan yang ditetapkan oleh petugas kesehatan haji.

Istitha’ah Adalah Bentuk Ikhtiar

Menjaga kesehatan sebelum berhaji bukan berarti kita sedang mencari alasan untuk tidak berangkat. Sebaliknya, istitha’ah merupakan bagian dari ikhtiar agar perjalanan menuju Baitullah dapat dijalani dengan aman dan ibadah dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Allah SWT berfirman:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi…”

(QS. Al-Anfal: 60)

Dalam perjalanan menuju Baitullah, jangan hanya menyiapkan koper, pakaian ihram, dan perlengkapan ibadah. Siapkan pula tubuh yang sehat, mental yang kuat, ilmu yang cukup, dan hati yang siap beribadah.

🕋 Sehat untuk Beribadah, Siap Menjadi Tamu Allah

Istitha’ah bukan sekadar tentang “boleh atau tidak boleh berangkat”. Lebih dari itu, istitha’ah adalah bagian dari persiapan agar jemaah mampu menjalani perjalanan dan rangkaian ibadah haji dengan sebaik mungkin.

Mari persiapkan istitha’ah sejak dini. Karena perjalanan menuju Baitullah membutuhkan bekal dan salah satu bekal pentingnya adalah kesehatan.

Disusun sebagai materi edukasi. Penetapan status istitha’ah kesehatan dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.

X