Share

Pernah nggak kita bertanya, “Kenapa harus seberat ini?”

Saat sakit datang, masalah bertubi-tubi, atau sesuatu yang kita sayangi harus pergi, rasanya wajar kalau hati bertanya-tanya. Apalagi ketika kita sudah berusaha berbuat baik dan mendekat kepada Allah.

Tapi ternyata, beratnya ujian tidak selalu berarti Allah sedang membenci kita.

Justru, orang-orang yang paling dekat dengan Allah pun mendapatkan ujian yang berat.

Nabi ﷺ Bersabda:

نَحْنُ مَعَاشِرَ الأَنْبِيَاءِ أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى العَبْدُ عَلَى قَدْرِ إِيمَانِهِ، فَإِنْ كَانَ صُلْبَ الإِيمَانِ شُدِّدَ عَلَيْهِ البَلَاءُ، وَإِنْ كَانَ فِي إِيمَانِهِ ضَعْفٌ خُفِّفَ عَنْهُ البَلَاءُ

“Kami, para nabi, adalah orang-orang yang paling berat mendapatkan ujian. Kemudian orang-orang yang paling baik setelah mereka, dan seterusnya. Seorang hamba diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Jika imannya kuat dan kokoh, maka ujiannya diperberat. Namun jika imannya lemah, maka ujiannya diringankan.”

Hadis ini mengingatkan kita bahwa ujian bukan ukuran bahwa seseorang sedang jauh dari Allah.

Para nabi, manusia pilihan Allah, justru menjadi orang-orang yang mendapatkan ujian paling berat.

Lalu, kenapa harus seberat itu?

Karena setiap orang diuji sesuai dengan kadar keimanannya.

Ketika iman seseorang kuat, ujian yang datang bisa menjadi jalan untuk semakin menguatkan dirinya. Kesulitan mengajarinya bersabar, kehilangan mengajarinya ikhlas, dan keadaan yang tidak sesuai harapan mengajarinya untuk semakin bersandar kepada Allah.

Bukan berarti ujian itu menyenangkan atau mudah. Tetap saja sakit. Tetap saja berat.

Namun, seorang mukmin percaya bahwa di balik ujian ada hikmah yang mungkin belum bisa ia lihat sekarang.

Jangan hanya melihat beratnya ujian

Kadang kita terlalu fokus pada masalah sampai lupa melihat apa yang sedang dibentuk oleh Allah dalam diri kita.

Mungkin melalui ujian, Allah sedang mengajarkan kita untuk lebih sabar.

Mungkin Allah sedang menghapus dosa-dosa kita.

Mungkin Allah sedang mengangkat derajat kita.

Atau mungkin Allah sedang membuat kita kembali lebih dekat kepada-Nya.

Jadi, ketika ujian terasa begitu berat, bukan berarti kita harus berpura-pura kuat dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Menangis boleh. Lelah boleh. Mengeluh kepada Allah juga boleh.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai rasa berat itu membuat kita berhenti berharap kepada-Nya.

Karena bisa jadi…

Ujian yang hari ini membuat kita bertanya, “Kenapa Allah memberikan ini kepadaku?”

Suatu hari justru akan membuat kita berkata,

“Ternyata, ada banyak kebaikan yang Allah titipkan melalui ujian itu.”

Maka, jangan buru-buru menganggap ujian sebagai tanda Allah membenci kita.

Bisa jadi, justru melalui ujian itulah Allah sedang menguatkan iman kita dan mendekatkan kita kepada-Nya.

Referensi: Ihya’ ‘Ulumiddin, Jilid 4, hlm. 287.

X