Ketika Waktu Terbatas: Menjaga Semangat Belajar Santri di Tengah Kesibukan
PDF DT — Setiap santri memiliki kondisi dan pembagian waktu yang berbeda dalam kesehariannya. Ada yang dapat belajar di pagi hari dengan udara sejuk dan pikiran segar. Ada pula yang belajar di siang hari di sela aktivitas dan materi sekolah. Sebagian lainnya memilih malam hari, ketika yang lain telah beristirahat, namun ia justru memusatkan diri untuk mencerna ilmu.
Perbedaan waktu belajar ini terkadang terasa janggal dan membuat sebagian santri merasa tertinggal dari yang lain. Mengapa demikian? Karena niat yang sama tidak selalu berjalan di jalur yang sama. Perbedaan ritme sering kali memunculkan rasa seolah-olah sedang berlomba, hingga menimbulkan keraguan untuk terus melangkah.
Ketika Perbandingan Melemahkan Semangat
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 139)
Ayat ini menegaskan agar perbedaan kondisi dan hasil tidak serta-merta melemahkan iman. Tugas seorang hamba bukanlah membandingkan perjalanan dirinya dengan orang lain, melainkan terus memperbarui niat dan menjaga semangat dalam berusaha.
Sebab Allah Ta’ala memberikan jawaban atas setiap ikhtiar pada waktu yang paling tepat menurut-Nya.
Semua Telah Ditakar dengan Hikmah
Allah Ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ… لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya… agar kamu tidak bersedih atas apa yang luput darimu dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan kepadamu.”
(QS. Al-Hadid [57]: 22–23)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan hati: tidak larut dalam kesedihan ketika tertinggal, dan tidak berlebihan ketika merasa unggul. Setiap santri berjalan dalam takaran waktu dan ujian yang berbeda, namun semuanya berada dalam pengawasan dan kasih sayang Allah.
Jaminan Pertolongan bagi Santri yang Terus Berusaha
Sebagai santri yang telah ditempa oleh kehidupan pesantren, kesulitan dalam belajar adalah bagian dari proses. Namun, Allah menjanjikan pertolongan bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar dan tidak menyerah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز.
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”
(HR. Muslim, no. 2664)
Hadis ini menjadi penguat bahwa keterbatasan waktu bukan alasan untuk berhenti, melainkan dorongan untuk semakin bersandar kepada Allah.
Belajar dalam Tekanan, Bertumbuh dalam Keimanan
Belajar tidak selalu berada pada fase yang nyaman. Akan ada masa di mana waktu terasa sempit, tenaga terbatas, dan hati diuji. Namun justru dari fase inilah diri dan iman ditempa agar tumbuh lebih matang dan tangguh.
Teruslah melangkah, meski perlahan. Sebab nilai di sisi Allah tidak diukur dari seberapa cepat seseorang berjalan, tetapi dari keistiqamahan dalam berusaha dan keikhlasan dalam niat.
Baarakallahu fiikum.
(Irwina)

