Share

Lelah di Dunia, Tenang di Surga: Lelah yang Dicintai Allah

Baitul Quran — Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai hamba-Nya yang mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Meski terasa lelah, selama kelelahan itu digunakan di jalan yang benar, ia bernilai ibadah dan mendatangkan pahala. Tidak semua lelah tercela; ada lelah yang justru dicintai Allah dan menjadi saksi kesungguhan seorang hamba dalam menjalani hidup.

Lelah semacam ini bukan tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa waktu digunakan untuk tumbuh dalam kebaikan. Lelah di dunia yang dijalani dengan niat karena Allah, kelak akan berbuah ketenangan di akhirat.

Lelah karena Menuntut Ilmu

Lelah pertama yang dicintai Allah adalah lelah dalam menuntut ilmu. Belajar dengan sungguh-sungguh, baik ilmu akademik, ilmu Al-Qur’an, ilmu keislaman, maupun ilmu kehidupan, merupakan jalan mulia yang mengangkat derajat manusia. Lingkungan pesantren menjadi salah satu tempat terbaik untuk menempa diri melalui proses belajar yang menyeluruh.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, ‘Jadilah kamu para penyembahku bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi (dia berkata), ‘Jadilah kamu orang-orang Rabbani karena kamu selalu mengajarkan Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.’”
(QS. Ali ‘Imran: 79)

Ayat ini menegaskan bahwa belajar dan mengajarkan ilmu adalah jalan menuju pribadi Rabbani, hamba yang dekat dengan Allah dan bermanfaat bagi sesama.

Lelah dalam Mencari Nafkah

Lelah kedua adalah lelah dalam mencari nafkah yang halal. Seorang kepala keluarga, tulang punggung rumah tangga, maupun siapa pun yang bekerja dengan niat yang lurus, sedang menjalani ibadah dalam bentuknya yang nyata. Terlebih di masa kini, banyak generasi muda yang mengembangkan ilmunya melalui praktik dunia kerja dan pengabdian.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 10)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar dunia, keduanya bernilai pahala bila dijalani dengan niat yang benar.

Lelah dalam Beribadah dan Mengumpulkan Amal Shalih

Lelah berikutnya adalah lelah karena ibadah dan mengumpulkan amal shalih. Ibadah bukan hanya menunaikan kewajiban pribadi, tetapi juga usaha menjadikan diri bermanfaat dan bernilai di hadapan Allah. Setiap kesungguhan dalam ibadah akan selalu mendapat balasan yang setimpal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Lelah Berjihad di Jalan Allah

Jihad tidak selalu identik dengan peperangan. Dalam makna yang luas, berjihad adalah kesungguhan seorang hamba dalam menjalani perannya demi meraih ridho Allah. Bekerja, belajar, safar, mendidik anak, dan taat pada peran masing-masing dalam keluarga, semuanya bisa bernilai jihad jika diniatkan karena Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”
(QS. At-Taubah: 111)

Ayat ini menjadi kabar gembira bahwa setiap pengorbanan di jalan Allah tidak akan pernah sia-sia.

Lelah dalam Mengurus Keluarga

Lelah terakhir yang dicintai Allah adalah lelah dalam mengurus keluarga. Keluarga adalah tempat pertama manusia tumbuh, belajar, dan mengenal kehidupan. Kehadiran, perhatian, dan pengorbanan untuk keluarga merupakan amanah besar yang bernilai pahala.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Mengurus keluarga, hadir saat mereka membutuhkan, dan mendidik mereka dalam kebaikan adalah bentuk ibadah yang sering kali sunyi, namun besar nilainya di sisi Allah.

Lelah sebagai Bekal Menuju Akhirat

Lelah adalah tanda bahwa seorang hamba mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat. Ia menjadi bukti bahwa hidup dijalani untuk bertumbuh dalam kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.”
(HR. Muslim)

Maka, siapkanlah bekal terbaik berupa amal kebaikan yang terus mengalir untuk menyambut kehidupan akhirat yang kekal. Lelah di dunia karena Allah, insyaAllah akan berbuah ketenangan abadi di surga.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X