Mengejar Target Hafalan: Pengalaman Belajar Seumur Hidup di Pesantren
PDF DT — Kehidupan seorang santri yang menghabiskan kesehariannya di pesantren menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia yang jauh lebih luas. Hiruk-pikuk zaman yang semakin tidak menentu menuntut hadirnya generasi yang kuat, tangguh, dan mampu merawat pohon kebaikan. Akar paling kokoh dari pohon tersebut tumbuh dari latihan yang tekun dan konsisten, hingga membentuk pribadi yang tahan uji.
Hafalan sebagai Latihan Keteguhan Hati
Keteguhan hati seorang santri tampak dari kesungguhannya dalam menghafal Al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab. Dari yang semula tidak mengetahui apa-apa, para santri berusaha membuka wawasan dan memahami ilmu pengetahuan yang bertebaran—ilmu yang kelak menjadi cahaya dalam perjalanan hidup mereka.
Imam Syafi‘i rahimahullah berkata:
مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً، تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ
“Siapa yang tidak mau merasakan pahitnya belajar walau sesaat, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.”
Ungkapan ini menjadi penguat bahwa perjuangan dalam belajar dan menghafal bukanlah beban, melainkan jalan pembentuk kemuliaan diri.
Proses Panjang di Balik Target Hafalan
Dalam prosesnya, seorang santri akan diuji kesabaran dan ketekunannya—melawan kantuk, menjaga hafalan agar tetap melekat, serta mengulang-ulang pelajaran supaya tidak mudah hilang. Kesungguhan seperti ini benar-benar diuji ketika santri memiliki target hafalan, sementara proses yang dijalani tidak selalu terasa mudah.
Sebagaimana santri yang menempuh pendidikan selama empat tahun, selama itu pula ia berkomitmen menyelesaikan target hafalan sejumlah kitab dan juz Al-Qur’an dalam waktu tertentu. Meski tidak ada sanksi formal jika target tersebut tidak tercapai, sanksi dari hati justru sering kali jauh lebih terasa dan membekas sepanjang hidup.
Target sebagai Pendidikan Jiwa
Latihan menentukan target hafalan sejatinya mengajarkan kesiapan menghadapi target-target kehidupan berikutnya yang lebih besar dan berat. Sebab yang terpenting bukan semata-mata berhasil atau tidaknya mencapai tujuan, melainkan bagaimana seseorang bertahan, bersabar, dan terus berjuang melawan hawa nafsu.
Dari proses itulah santri belajar bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat lurus akan bernilai ibadah. Target bukan hanya tentang capaian, tetapi tentang kesungguhan hati dalam meraih ridha Allah dari setiap langkah yang ditempuh.
Baarakallahu fiikum.
(Irwina)

