Share

Mengetuk Pintu Langit dengan Ziyadah Al-Qur’an

Baitul Qur’an DT — Jarak sering kali mengajarkan bahwa rindu harus menemukan jalannya untuk bertemu. Rindu kepada Allah, rindu merasakan ketenangan, rindu khusyuk dalam ibadah. Namun bagaimana jika seseorang telah lama jauh dari Al-Qur’an? Masihkah rindu itu tumbuh di dalam hati?

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, pedoman hidup yang tak pernah lekang oleh waktu. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber hidayah. Namun rindu kepada Al-Qur’an bukan sekadar perasaan. Rindu berarti menjaga, membaca, mengulang, dan menambah hafalan (ziyadah) dengan penuh kesungguhan. Rindu diwujudkan dalam kedekatan yang nyata.

Ziyadah: Bukti Cinta yang Bertumbuh

Pada masa para sahabat Rasulullah ﷺ, turunnya wahyu adalah momen suci yang dijaga sepenuh jiwa. Mereka mendengar, menghafal, dan menanamkan ayat-ayat dalam dada sebelum dituliskan. Pengorbanan itu tidak ringan, tetapi justru di sanalah letak kemuliaannya.

Semangat itulah yang seharusnya hidup kembali pada generasi hari ini. Mencintai Al-Qur’an tanpa syarat, tanpa menunda, tanpa merasa berat. Sebab Al-Qur’an tidak pernah menyakiti hati yang mendekatinya. Ia justru menenangkan, menguatkan, dan mengangkat derajat pemiliknya.

Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (١٠٧) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا (١٠٨)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus menjadi tempat tinggal; mereka kekal di dalamnya dan tidak ingin berpindah darinya.” (QS. Al-Kahfi: 107–108)

Surga adalah balasan tertinggi. Salah satu jalan menuju ke sana adalah dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat hidup—dibaca setiap hari, dihafalkan sedikit demi sedikit, dan diamalkan dalam perbuatan.

Menghafal Al-Qur’an dan Kemuliaan di Sisi Allah

Rasulullah ﷺ menyebutkan kemuliaan para penghafal Al-Qur’an. Mereka dimuliakan di dunia dan akhirat. Setiap ayat yang dilantunkan dengan ikhlas seakan mengetuk pintu-pintu langit. Tidak ada satu pun usaha yang terlewat dari pengawasan Allah.

Betapa besar perjuangan melawan rasa malas. Betapa berat menjaga konsistensi untuk ziyadah meski hanya satu halaman. Namun setiap huruf bernilai pahala, setiap kesungguhan bernilai ibadah.

Sebagaimana firman Allah:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ ۖ

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.” (QS. Ali Imran: 195)

Janji Allah jelas: tidak ada amal yang sia-sia. Setiap langkah mendekat kepada Al-Qur’an akan berbuah kebaikan, di dunia maupun di akhirat.

Isilah Hidup dengan Al-Qur’an

Maka, jangan biarkan jarak semakin jauh. Bacalah Al-Qur’an setiap hari, tambahkan hafalan dengan istiqamah, dan jadikan ia teman terdekat dalam suka maupun duka. Ziyadah bukan sekadar menambah hafalan, tetapi menambah kedekatan dengan Allah.

Sebab kelak, di hari ketika manusia mencari pertolongan, Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi orang-orang yang menjaganya.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X