Sholat Lima Waktu: Jalan Menuju Ridho Allah
DKM DT — Siapa di antara kita yang masih menunda-nunda sholat? Mengerjakan sholat di ujung waktu, bahkan nyaris beriringan dengan masuknya waktu sholat berikutnya? Padahal shalat lima waktu adalah amalan yang pertama kali dihisab di akhirat kelak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ »
“Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat.”
(HR. At-Tirmidzi, hasan shahih)
Kemudian beliau ﷺ melanjutkan:
« فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ »
“Jika shalatnya baik, ia telah beruntung dan selamat. Jika shalatnya rusak, ia telah gagal dan merugi.”
Sholat Bukan Sekadar Gerakan
Sholat bukan hanya rangkaian gerakan fisik, melainkan kehadiran hati di hadapan Allah. Di dalam sholatlah Allah menganugerahkan ketenangan yang tidak tergantikan oleh apa pun di dunia ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ »
“Dijadikan penyejuk mataku ada dalam shalat.”
(HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Hadits ini menunjukkan bahwa sholat adalah tempat kembali, tempat mengadu, dan tempat menenangkan hati bagi seorang hamba yang beriman.
Setiap Azan adalah Panggilan Cinta
Karena itulah, seorang hamba yang ikhlas akan menjadikan hidupnya sebagai jeda-jeda yang mengantarkannya kembali kepada Allah. Setiap azan adalah panggilan cinta—ajakan untuk berhenti sejenak dari urusan dunia, berserah diri, dan mengejar ridho-Nya.
Menjaga sholat tepat waktu bukan sekadar kewajiban, tetapi bentuk cinta dan ketaatan kepada Allah. Dari sholat yang dijaga itulah lahir ketenangan, keberkahan, dan keselamatan hidup dunia hingga akhirat.
Baarakallahu fiikum.
(Irwina)

