Share

Tak Harus Kaya, tapi Harus Percaya: Ketika Allah Memanggil Hamba-Nya ke Baitullah

KBIHU Daarut Tauhiid“Allah bukan memilih memberangkatkan hamba yang mampu, tetapi Allah mampukan hamba yang terpilih untuk berangkat.” Kalimat ini bukan sekadar penguat jiwa, melainkan sebuah kenyataan yang kerap tampak dalam kehidupan. Tidak sedikit orang yang secara finansial terlihat mampu, namun ketika waktu keberangkatan tiba, Allah mengujinya dengan berbagai hal yang tak terduga: kesehatan yang menurun, musibah keluarga, kendala administrasi, atau sebab lain yang membuat niat tersebut tertunda.

Di sisi lain, ada hamba yang secara lahiriah tampak jauh dari kata cukup. Namun dengan izin Allah, langkahnya terasa ringan, jalannya dibukakan, dan rezekinya datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemampuan berhaji bukan semata hasil kerja keras manusia, tetapi karunia dan kehendak Allah yang Dia tetapkan bagi hamba yang ingin Dia muliakan.

Kecukupan Datang dari Karunia Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ
“Maka Allah akan memberikan kecukupan kepada kalian dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki.”
(QS. At-Taubah: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa kecukupan—termasuk rezeki untuk perjalanan haji—adalah bagian dari karunia Allah. Ia tidak semata ditentukan oleh angka di rekening, jabatan, ataupun usia. Kecukupan adalah ketika Allah menggerakkan rezeki, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan secara bersamaan.

Undangan Allah ke Tanah Suci

Allah mengundang siapa pun hamba yang Dia kehendaki. Pemilihan itu bukan dengan ukuran dunia, melainkan dengan ukuran yang hanya Dia ketahui dari kedalaman hati seorang hamba. Allah Maha Mengetahui doa-doa yang pernah terucap di sepertiga malam, harapan yang disimpan dalam diam, serta kesungguhan yang mungkin tidak terlihat oleh mata manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ
“Para jamaah haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah.”

Tidak ada seorang pun yang menjadi tamu kecuali karena undangan dari Tuan Rumah. Maka, siapa saja yang Allah panggil menuju Baitullah sejatinya sedang dimuliakan oleh-Nya.

Bukan Tentang Harta, tetapi Tentang Kepercayaan

Begitu banyak kisah orang-orang yang terpilih berangkat haji bukan karena kelimpahan hartanya, tetapi karena keikhlasan dan keyakinannya. Ada yang menabung dari receh demi receh selama bertahun-tahun, ada yang mendapat bantuan tak terduga, ada yang dibukakan jalan melalui perantara orang lain, bahkan ada pula yang awalnya tidak berniat, namun Allah kuatkan hatinya untuk melangkah.

Semua kisah ini menegaskan satu hal: haji bukan tentang seberapa kaya seseorang, tetapi seberapa besar kepercayaannya kepada takdir dan kasih sayang Allah. Ketika keyakinan itu hadir, Allah-lah yang akan menyempurnakan jalannya.

Menjaga Harap dan Doa

Bagi siapa pun yang merindukan Tanah Suci, jangan pernah merasa kecil atau tidak pantas hanya karena keterbatasan dunia. Teruslah menjaga niat, memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada Allah. Sebab, jika Allah telah menetapkan undangan itu, maka tidak ada satu pun yang mampu menghalanginya.

Semoga Allah membukakan jalan bagi setiap hamba yang merindukan Baitullah, memampukan langkah mereka, serta menjadikan keberangkatan tersebut sebagai jalan menuju ampunan dan surga-Nya.

Baarakallahu fiikum.

(Irwina)

X