Share

DIKLATSAR 2026/2027 Resmi Ditutup, Baitul Quran DT Bekali Santri Menjadi Generasi Qurani yang Tangguh

Bandung — Baitul Quran Pesantren Daarut Tauhiid Indonesia telah sukses menyelenggarakan Masa Orientasi dan Pendidikan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung sejak 5 hingga 11 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri baru Angkatan ke-22, serta beberapa santri aktif yang baru berkesempatan mengikuti DIKLATSAR karena faktor usia maupun masuk pada pertengahan tahun ajaran sebelumnya. Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi oleh H. Yunus Zaenuddin selaku Bendahara Yayasan Daarut Tauhiid Khadimul Ummat dan ditutup melalui upacara penutupan di Eco Pesantren DT 1 dengan pembina upacara K.H. Fahrudin, Ketua Yayasan Daarut Tauhiid Khadimul Ummat.

Selama dua hari pertama, para santri mengikuti orientasi kelas yang membekali mereka dengan berbagai nilai dasar kepesantrenan, mulai dari pengenalan Baitul Quran, urgensi meluruskan niat, karakter BAKU (Baik dan Kuat), keutamaan menjadi Ahlul Quran, budaya Daarut Tauhiid, hingga adab pergaulan sesuai syariat Islam. Selanjutnya, orientasi lapangan menjadi ajang untuk melatih keberanian, kedisiplinan, dan kerja sama melalui berbagai aktivitas seperti rappeling, Peraturan Baris Berbaris (PBB), fikih praktis lapangan, serta longmarch. Puncak kegiatan dilaksanakan selama tiga hari di kawasan hutan Cijanggel, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, sebagai proses pembentukan mental, kemandirian, dan ketangguhan santri.

Salah satu momen yang paling berkesan adalah prosesi penyematan “syal biru” sebagai tanda resmi bergabungnya para peserta menjadi bagian dari keluarga besar Santri Tahfidz Baitul Quran DT. Penyematan identitas tersebut disertai doa dan harapan agar syal yang dikenakan bukan sekadar atribut, melainkan pengingat akan amanah besar sebagai penjaga Al Quran. “Semoga dengan identitas baru ini menjadi penguat langkah sahabat sekalian dalam menjaga Al Quran dan menjadi jalan menuju kemuliaan di dunia maupun akhirat.” Pesan tersebut menjadi penyemangat bagi para santri untuk menjalani setiap proses pembinaan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Salah seorang peserta mengungkapkan kesannya, “DIKLATSAR ini mengajarkan saya bahwa menjadi santri bukan hanya belajar menghafal Al Quran, tetapi juga belajar melawan rasa takut, disiplin, bertanggung jawab, dan percaya bahwa setiap proses akan menguatkan diri.”

Melalui rangkaian orientasi dan DIKLATSAR ini, Baitul Quran Daarut Tauhiid berharap lahir generasi Qurani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga tangguh dalam karakter, kokoh dalam akhlak, dan siap mengemban amanah sebagai penjaga Al Quran serta memberikan manfaat bagi agama, umat, dan bangsa. [ATS]

X