Korupsi Tidak Selalu Miliaran Rupiah, Kadang Dimulai dari Hal yang Kita Anggap Biasa
Ketika mendengar kata korupsi, kebanyakan orang langsung teringat pada pejabat yang menyalahgunakan jabatan atau menggelapkan uang negara. Padahal dalam Islam, akar dari korupsi jauh lebih luas. Ia berawal dari sifat tidak amanah, mengambil sesuatu yang bukan haknya, dan mengkhianati kepercayaan. Jika sifat ini dibiarkan dalam hal-hal kecil, bukan tidak mungkin suatu hari akan tumbuh menjadi kejahatan yang lebih besar.
Karena itu, setiap muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah aku sudah benar-benar menjaga amanah yang Allah titipkan?
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
“Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ
“Allah melaknat pemberi suap dan penerima suap.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa Islam sangat tegas melarang segala bentuk pengambilan harta dengan cara yang tidak benar, baik dalam jumlah besar maupun kecil.
Korupsi ternyata tidak selalu berbentuk miliaran rupiah. Ada banyak perilaku yang mungkin terlihat sepele, tetapi memiliki ruh yang sama, yaitu mengambil hak yang bukan miliknya. Contohnya:
- Menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi tanpa izin
Misalnya menggunakan kendaraan dinas, printer kantor, atau aset lembaga untuk urusan pribadi tanpa persetujuan. Meski terlihat biasa, hal itu tetap termasuk memanfaatkan amanah di luar haknya. - Memanipulasi laporan kerja atau absensi
Datang terlambat tetapi mengisi absensi seolah-olah tepat waktu, atau membuat laporan pekerjaan yang tidak sesuai kenyataan. Ini termasuk bentuk ketidakjujuran yang merugikan pihak lain. - Menerima hadiah karena jabatan yang dimiliki
Seseorang diberi hadiah, uang, atau fasilitas agar dipermudah urusannya. Dalam Islam, hadiah yang diberikan karena jabatan dapat berubah menjadi suap yang diharamkan. - Menyontek atau melakukan plagiarisme
Mengambil hasil karya atau jawaban orang lain lalu mengakuinya sebagai milik sendiri. Meski terjadi di lingkungan sekolah atau kampus, ini tetap merupakan bentuk pengambilan hak orang lain dengan cara yang batil. - Tidak menjalankan amanah pekerjaan dengan sungguh-sungguh
Menerima gaji penuh, tetapi lebih banyak bermalas-malasan, bermain media sosial, atau mengabaikan tanggung jawab yang telah disepakati. Waktu kerja adalah amanah yang juga harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. - Membajak karya digital atau menggunakan software berbayar secara ilegal
Menggunakan film, e-book, aplikasi, atau software bajakan tanpa hak berarti mengambil manfaat dari hasil karya orang lain tanpa izin. Meski sering dianggap hal biasa, seorang muslim diajarkan untuk menghormati hak dan jerih payah orang lain.
Dan perkara lainnya yang secara sadar maupun tidak sadar kita lakukan. Mungkin nilainya tidak sebesar korupsi negara, tetapi semuanya tetap termasuk bentuk pengkhianatan terhadap amanah yang harus diwaspadai.
Lalu bagaimana cara menghindarinya? Mulailah dengan membangun rasa muraqabah, yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah. Biasakan bersikap jujur meskipun tidak ada yang melihat, bedakan dengan tegas mana hak kita dan mana yang bukan, tolak segala bentuk suap atau gratifikasi yang tidak semestinya, serta tunaikan setiap amanah dengan sebaik-baiknya. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ
“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Negeri ini tidak akan berubah hanya dengan berharap lahirnya pemimpin yang jujur. Perubahan dimulai ketika setiap individu berani menjaga amanah dalam hal-hal kecil. Sebab korupsi besar tidak lahir dalam satu malam, tetapi berawal dari kebiasaan menganggap remeh kebohongan, kecurangan, dan pengkhianatan yang kecil. Maka jangan hanya membenci korupsi yang dilakukan orang lain, tetapi bencilah juga benih-benih korupsi yang mungkin masih ada dalam diri kita. Karena kejujuran bukan dimulai dari besarnya jabatan, melainkan dari bersihnya hati dan takutnya seseorang kepada Allah. [ATS]

