Empat Tanda Orang Celaka Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang muslim senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi diri). Dalam kitab Nasā’ihul ‘Ibād karya Syekh Nawawi Al-Bantani, disebutkan empat tanda yang dapat menjadi ciri seseorang berada dalam jalan kesengsaraan (asy-syaqāwah), yaitu:
عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: نِسْيَانُ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ وَهِيَ عِنْدَ اللّٰهِ تَعَالَى مَحْفُوظَةٌ، وَذِكْرُ الْحَسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ وَلَا يَدْرِي أَقُبِلَتْ أَمْ رُدَّتْ، وَنَظَرُهُ فِي الدُّنْيَا إِلَى مَنْ فَوْقَهُ، وَنَظَرُهُ فِي الدِّينِ إِلَى مَنْ دُونَهُ.
“Tanda orang celaka ada empat: melupakan dosa-dosa yang telah lalu padahal semuanya tetap tercatat di sisi Allah, mengingat-ingat amal kebaikan yang telah lalu padahal ia tidak mengetahui apakah amal tersebut diterima atau ditolak, dalam urusan dunia selalu melihat kepada orang yang berada di atasnya, dan dalam urusan agama justru melihat kepada orang yang berada di bawahnya.”
(Nasā’ihul ‘Ibād, Bab IV, Makalah ke-15).
Keempat sifat ini tampak sederhana, tetapi jika dibiarkan akan menggerogoti hati dan menjauhkan seseorang dari Allah SWT.
1. Melupakan Dosa-Dosa Masa Lalu
Seseorang yang melupakan dosa-dosanya akan mudah merasa dirinya sudah baik. Padahal setiap dosa tetap tercatat di sisi Allah SWT hingga diampuni melalui taubat yang sungguh-sungguh.
Mengingat dosa bukan untuk berputus asa, melainkan agar hati tetap rendah, banyak beristighfar, dan tidak meremehkan maksiat sekecil apa pun.
2. Selalu Mengingat Amal Kebaikan
Sebaliknya, terlalu sering mengingat amal baik yang pernah dilakukan juga merupakan tanda yang berbahaya. Seseorang bisa merasa bangga terhadap ibadahnya, lalu muncul sifat ujub (bangga diri) dan riya (ingin dipuji).
Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah amalnya diterima atau justru ditolak oleh Allah SWT. Karena itu, para ulama lebih banyak mengkhawatirkan diterima atau tidaknya amal daripada banyaknya amal yang telah dikerjakan.
3. Selalu Melihat ke Atas dalam Urusan Dunia
Ketika seseorang terus membandingkan hartanya, pekerjaannya, atau kehidupannya dengan orang yang lebih berada, ia akan sulit merasakan nikmat syukur.
Akibatnya, hati dipenuhi rasa kurang, iri, dan tidak pernah merasa cukup. Islam mengajarkan agar dalam urusan dunia kita melihat kepada orang yang keadaannya berada di bawah kita sehingga hati lebih mudah bersyukur atas nikmat Allah SWT.
4. Melihat ke Bawah dalam Urusan Agama
Dalam perkara agama justru sebaliknya. Jangan merasa cukup hanya karena ibadah kita lebih baik daripada sebagian orang.
Jika selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih rendah kualitas ibadahnya, semangat untuk memperbaiki diri akan melemah. Seorang muslim hendaknya melihat kepada orang-orang yang lebih saleh agar termotivasi untuk terus belajar, memperbaiki salat, memperbanyak amal, dan meningkatkan ketakwaan.
Empat tanda ini menjadi pengingat agar kita senantiasa menjaga hati.
- Ingatlah dosa agar mudah bertaubat.
- Lupakan amal baik agar terhindar dari ujub.
- Dalam urusan dunia, lihatlah kepada yang berada di bawah agar mudah bersyukur.
- Dalam urusan agama, lihatlah kepada yang lebih baik agar terus termotivasi beribadah.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat-sifat yang membawa kepada kesengsaraan dan menjadikan kita hamba yang selalu rendah hati, bersyukur, serta istiqamah dalam memperbaiki diri. Āmīn.


