Sehat Akan Lebih Berarti Ketika Sakit: Nikmat yang Sering Terlupa
Klinik Daarut Tauhiid — Dalam keseharian, kita kerap merasa semuanya baik-baik saja. Tubuh terasa kuat, aktivitas berjalan lancar, dan tidak ada keluhan berarti. Namun, kesadaran itu sering berubah ketika tubuh mulai memberi tanda: kelelahan berlebihan, pusing, atau kondisi yang memaksa kita beristirahat seharian. Di saat itulah kita menyadari bahwa sehat adalah nikmat besar yang sering baru terasa nilainya ketika ia berkurang atau bahkan hilang.
Padahal, nikmat sehat tidak hanya berdampak pada diri sendiri. Saat tubuh sehat, kita dapat beraktivitas dengan produktif, membantu orang lain, bekerja dengan optimal, serta beribadah dengan lebih khusyuk. Sebaliknya, ketika sakit, bukan hanya aktivitas pribadi yang terganggu, tetapi orang-orang di sekitar pun ikut terbebani untuk menjaga, mengurus, dan menyesuaikan waktu mereka.
Islam Sangat Menjunjung Tinggi Kesehatan
Dalam Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian dari amanah yang harus ditunaikan. Tubuh adalah titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini mengingatkan bahwa banyak manusia baru menyadari nilai kesehatan ketika nikmat tersebut telah berkurang. Padahal, sehat adalah modal utama untuk melakukan amal kebaikan dan memperbanyak ibadah.
Allah Ta’ala juga berfirman:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini menjadi landasan penting bagi anjuran menjaga kesehatan, menghindari hal-hal yang membahayakan tubuh, serta melakukan upaya pencegahan penyakit sejak dini.
Kesehatan Didahulukan dalam Syariat
Dalam berbagai kondisi, termasuk pada masa peperangan, Rasulullah ﷺ selalu memperhatikan keadaan kesehatan para sahabat. Mereka yang sakit tidak dipaksa melakukan aktivitas berat, tidak dibebani tugas yang melelahkan, dan diberikan keringanan sesuai kemampuan.
Rasulullah ﷺ bersabda kepada sahabat yang sakit:
“Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak mampu, maka duduklah. Jika tidak mampu juga, maka berbaringlah.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan prinsip yang sangat jelas bahwa Islam tidak mempersulit. Kondisi kesehatan diperhatikan dan tidak boleh dipaksakan melebihi batas kemampuan tubuh.
Jika dalam ibadah saja Allah memberikan kemudahan ketika seseorang sakit, maka dalam urusan dunia pun tubuh tentu membutuhkan perhatian, jeda, dan perawatan yang serius.
Jangan Sampai Sakit Menghentikan Langkah Berbuat Baik
Sakit bukan sekadar rasa tidak nyaman. Ia dapat menjadi penghalang untuk berkarya, bekerja, belajar, bahkan beribadah. Agar tetap bisa memberi manfaat bagi sesama, kesehatan harus dijaga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap amanah Allah.
Upaya menjaga kesehatan dapat dimulai dari hal-hal sederhana namun konsisten, seperti:
- tidur yang cukup dan teratur
- mengonsumsi makanan yang bersih dan bergizi
- berolahraga secara rutin sesuai kemampuan
- minum air putih yang cukup
- melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
- mengelola stres dan menghindari pola hidup yang tidak sehat
Langkah kecil yang dilakukan hari ini merupakan investasi kesehatan untuk masa depan.
Menjaga Kesehatan sebagai Bentuk Syukur
Nikmat sehat sering kali dianggap biasa, hingga akhirnya hilang dan meninggalkan penyesalan. Karena itu, jangan menunggu tubuh memberi “alarm keras” baru mulai peduli. Menyayangi diri, merawat tubuh, dan menjaga kesehatan adalah wujud syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan.
Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan kita, melapangkan aktivitas ibadah, serta menjadikan tubuh yang sehat sebagai jalan untuk terus berkarya dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Baarakallahu fiikum.
(Irwina)

