Share

Ketika 700 Ulama Ditanya: Siapa Orang yang Paling Berakal?

Di tengah kehidupan yang membuat kita terus mengejar banyak hal, pernahkah kita bertanya, sebenarnya seperti apa orang yang bisa disebut berakal, cerdas, dan kaya?

Menariknya, Imam Syaqiq bin Ibrahim رحمه الله تعالى pernah mengajukan lima pertanyaan kepada 700 orang ‘alim. Bukan tentang siapa yang paling banyak hartanya atau paling tinggi kedudukannya. Beliau justru bertanya tentang makna akal, kecerdasan, kekayaan, kefaqihan, dan kekikiran.

Yang menarik, 700 orang ‘alim tersebut memberikan jawaban yang sama.

وقال شقيق بن إبراهيم رحمه الله تعالى:

سألت سبعمائة عالم عن خمسة أشياء، فكلهم اجابوا بجواب واحد

Imam Syaqiq bin Ibrahim رحمه الله تعالى berkata:

“Saya bertanya kepada tujuh ratus orang ‘alim tentang lima hal, dan mereka semua memberikan jawaban yang sama.”

Pertanyaan pertama beliau adalah:

قلت من العاقل؟ قالوا العاقل من لم يحب الدنيا

“Aku bertanya, ‘Siapakah orang yang berakal sempurna?’ Mereka menjawab, ‘Orang yang tidak mencintai dunia.’”

Kemudian beliau bertanya:

قلت من الكيس؟ قالوا من لم تغره الدنيا

“Aku bertanya, ‘Siapakah orang yang cerdas?’ Mereka menjawab, ‘Yaitu orang yang tidak tergoda oleh dunia.’”

Selanjutnya:

قلت من الغنى؟ قالوا الذى يرضى بما قسم الله له

“Aku bertanya, ‘Siapakah orang yang kaya?’ Mereka menjawab, ‘Orang yang merasa puas dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya.’”

Beliau juga bertanya:

قلت من الفقيه؟ قالوا الذى يمتنع من طلب الزيادة

“Aku bertanya, ‘Siapakah faqih (ahli hukum) itu?’ Mereka menjawab, ‘Orang yang menolak untuk meminta lebih (dari dunia).’”

Dan terakhir:

قلت من البخيل؟ قالوا الذى يمنع حق الله تعالى من ماله

“Aku bertanya, ‘Siapakah orang yang kikir?’ Mereka menjawab, ‘Orang yang menahan bagian yang menjadi hak Allah dari harta kekayaannya.’”

Lima pertanyaan tersebut seakan mengajarkan kita satu hal: jangan sampai kehidupan dunia membuat hati kita lupa pada tujuan sebenarnya.

Orang yang berakal tidak mencintai dunia secara berlebihan. Orang yang cerdas tidak mudah tergoda olehnya. Orang yang kaya merasa cukup dengan pemberian Allah, dan orang yang kikir adalah yang menahan hak Allah dari hartanya.

Dunia boleh kita miliki, tetapi jangan sampai dunia menguasai hati kita.

Referensi: Kitab Tanbihul Ghafilin, hlm. 221.


X