Bukan Sekadar Camping: 3 Hari DTSC Youth Camp Ajak Anak Muda Pulang dengan Hati yang Berbeda
Lembang — Bagaimana jika tiga hari di tengah alam bukan hanya menjadi waktu untuk beristirahat dari rutinitas, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali mengenal diri, menata hati, dan mendekat kepada Allah?
Itulah pengalaman yang dihadirkan dalam Daarut Tauhiid Spiritual Camp 2 (DTSC Youth Camp) – Journey to be Youth yang diselenggarakan oleh PKBM Daarut Tauhiid pada 15–17 Agustus 2026 di Bukit Pinus Lembang.
Selama tiga hari dua malam, sebanyak 11 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang khusus untuk generasi muda. Bukan sekadar camping, kegiatan ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan, melihat kembali perjalanan hidup, serta memahami berbagai tantangan masa muda, termasuk fase quarter life crisis.
Peserta mengikuti berbagai sesi seperti refleksi diri, journaling & sharing, pengelolaan hati, healing circle, olahraga, fun games, camp fire, dan sharing night. Suasana alam Bukit Pinus turut menghadirkan pengalaman yang lebih hangat, tenang, dan dekat antarpeserta.
Perjalanan ini juga diperkuat dengan ibadah bersama, muhasabah, tadabbur Surah Ad-Dhuha, serta spiritual journey. Melalui rangkaian tersebut, peserta diajak untuk tidak hanya mengenal dirinya lebih dalam, tetapi juga menyadari bahwa setiap fase kehidupan memiliki proses dan makna yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
Pesan dari Surah Ad-Dhuha menjadi salah satu pengingat penting dalam kegiatan ini: bahwa di tengah rasa bingung, lelah, ataupun kehilangan arah, selalu ada harapan dan pertolongan Allah.
DTSC Youth Camp tidak dirancang untuk membuat seseorang pulang dengan seluruh jawaban tentang kehidupannya. Namun setidaknya, tiga hari ini menjadi ruang untuk memulai kembali.
Mulai mengenal diri.
Mulai menata hati.
Mulai menentukan arah.
Dan mulai menyadari bahwa perjalanan menjadi dewasa tidak harus dilalui sendirian.
Melalui tema Journey to be Youth, PKBM Daarut Tauhiid berharap peserta membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman camping dan pertemanan, tetapi juga sebuah komitmen untuk menjalani kehidupan dengan lebih sadar, lebih bermakna, dan lebih dekat kepada Allah.
Karena terkadang, perjalanan terbaik bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi tentang siapa diri kita ketika kembali pulang.









