Share

Seni Setan Membungkus Dosa Menjadi Estetik

Ada dosa yang wajahnya memang terlihat buruk, sehingga kita mudah mengenalinya. Tetapi ada pula dosa yang datang dengan kemasan indah. Ia dibalut dengan istilah kebebasan, disebut cinta, diberi nama healing, atau bahkan dipoles sebagai bagian dari gaya hidup.

Inilah salah satu cara setan menyesatkan manusia: membuat sesuatu yang buruk terlihat baik dan sesuatu yang salah terasa wajar. Dalam Al Quran, cara ini dikenal dengan istilah tazyin; penghiasan.

Allah ﷻ berfirman:

وَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ

“Demi Allah, sungguh Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, tetapi setan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan mereka…” (QS. An-Nahl: 63).

Perhatikan, setan tidak selalu datang dengan bisikan, “Ayo lakukan dosa.” Kadang ia justru berkata, “Ini bukan dosa, ini ekspresi.” atau “Semua orang juga melakukannya.” Bahkan, “Yang penting hatimu baik.”

Perlahan, sesuatu yang dulu membuat kita malu justru berubah menjadi sesuatu yang kita banggakan.

Karena itu, dosa bisa berganti nama tanpa berganti hakikat. Zina bisa dibungkus sebagai kebebasan dalam hubungan. Ghibah disebut sekedar sharing atau curhat. Riba dikemas sebagai kemudahan finansial. Riya bisa tampil sebagai personal branding. Kesombongan bisa diberi nama self-worth. Begitu pula membuka aurat dapat dibungkus dengan berbagai narasi tentang kebebasan diri.

Istilahnya boleh berubah, kemasannya boleh semakin menarik, tetapi jika Allah telah mengharamkannya, ia tetap menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan.

Islam tentu tidak memusuhi keindahan. Kita boleh menyukai sesuatu yang indah, rapi, estetik, dan menarik. Masalahnya bukan pada keindahannya, tetapi ketika keindahan digunakan untuk membuat kita lupa bahwa sesuatu itu haram. Racun yang dituangkan ke dalam gelas yang cantik tetaplah racun. Begitu pula dosa yang dipoles sedemikian indahnya tetaplah dosa jika Allah telah melarangnya.

Allah ﷻ mengingatkan:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ

“Setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah).” (QS. An-Naml: 24).

Inilah yang perlu kita waspadai: jangan sampai masalah terbesar bukan lagi ketika kita melakukan dosa, tetapi ketika kita sudah tidak merasa bahwa itu dosa. Sebab selama dosa masih terasa sebagai dosa, hati masih memiliki kesempatan untuk menyesal dan kembali kepada Allah.

Namun ketika dosa sudah dianggap keren, normal, bahkan dibela, hati bisa sibuk mencari pembenaran daripada mencari ampunan. Maka sebelum bertanya, “Apakah ini terlihat indah?”, tanyakan pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apakah ini indah di hadapan Allah?” Sebab tidak semua yang dipuji manusia sedang diridhai Allah. Dan terkadang, jebakan terbesar setan bukan sekadar membuat kita mencintai dosa, tetapi membuat kita mengaguminya.


X