Share

Kajian Tauhid “Merdeka dari Cinta Dunia”, Aa Gym Ajak Jamaah Menata Hati di Tengah Godaan Dunia

Jakarta, 10 Agustus 2026 — Masjid Daarut Tauhiid Jakarta kembali menggelar Kajian Tauhid pada Senin (10/8/2026). Mengangkat tema “Merdeka dari Cinta Dunia”, kajian ini menghadirkan K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan Koh Dennis Lim serta terbuka untuk umum.

Kajian yang berlangsung pukul 10.30–13.30 WIB di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta, Jalan Cipaku I No. 43, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersebut mengajak jamaah untuk memahami makna kemerdekaan dari sisi hati dan bagaimana menyikapi kehidupan dunia dengan lebih bijak.

Ketika Dunia Mulai Menguasai Hati

Dalam kehidupan sehari-hari, harta, jabatan, pekerjaan, dan berbagai kenikmatan merupakan bagian dari kehidupan yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan. Namun, persoalan muncul ketika berbagai hal tersebut mulai menjadi tempat seseorang menggantungkan kebahagiaan dan ketenangan hatinya.

Melalui tema “Merdeka dari Cinta Dunia”, jamaah diajak untuk melihat kembali hubungan dirinya dengan dunia. Dunia bukan sesuatu yang harus dibenci atau ditinggalkan, tetapi jangan sampai kecintaan kepadanya membuat seseorang lalai dari tujuan hidup dan hubungannya dengan Allah.

Kondisi tersebut dapat terlihat ketika kebahagiaan terlalu bergantung pada apa yang dimiliki. Saat mendapatkan sesuatu, hati merasa sangat bahagia, sementara ketika kehilangan, seseorang merasa begitu terpukul.

Karena itu, sikap zuhud tidak selalu berarti hidup tanpa memiliki harta atau kenikmatan dunia. Zuhud dapat dipahami sebagai sikap tidak menjadikan dunia sebagai penguasa hati. Seseorang tetap dapat bekerja, berusaha, memiliki harta, dan meraih prestasi, tetapi hatinya tidak bergantung kepada semua itu.

Merdeka dari Keinginan yang Tidak Pernah Selesai

Kecintaan berlebihan kepada dunia juga dapat muncul melalui keinginan yang terus bertambah. Setelah mendapatkan satu hal, muncul keinginan lainnya. Begitu seterusnya, hingga seseorang sulit merasakan cukup.

Kondisi ini semakin mudah terjadi di tengah kehidupan digital dan media sosial. Berbagai pencapaian, gaya hidup, dan keberhasilan orang lain dapat terlihat setiap hari. Tanpa disadari, seseorang dapat terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Jika tidak disikapi dengan bijak, keadaan tersebut dapat membuat hati terus mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah selesai.

Di sinilah pentingnya qanaah dan syukur. Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha atau tidak memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, seseorang tetap berikhtiar, tetapi mampu menerima dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan.

Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Salah satu pesan penting dari tema kajian ini adalah bagaimana menempatkan dunia secara proporsional.

Harta dapat digunakan untuk beribadah dan membantu sesama. Jabatan dapat menjadi sarana untuk melayani dan memberikan manfaat. Begitu pula popularitas atau kemampuan yang dimiliki dapat diarahkan untuk menghadirkan kebaikan.

Dengan demikian, yang perlu ditata bukan semata-mata apa yang dimiliki, tetapi bagaimana hati memperlakukan apa yang dimiliki.

Ketika hati tidak menjadikan dunia sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, seseorang diharapkan dapat lebih siap menghadapi perubahan kehidupan, termasuk ketika harus kehilangan sesuatu yang selama ini dimilikinya.

Mengembalikan Allah sebagai Tujuan

Kajian tersebut juga menjadi momentum bagi jamaah untuk melakukan muhasabah. Di tengah berbagai kesibukan, target, pekerjaan, dan keinginan, penting untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya paling dicintai dan paling dikhawatirkan kehilangannya?

Pertanyaan tersebut menjadi pengingat agar berbagai urusan dunia tidak menggeser posisi Allah dalam hati.

Kemerdekaan hati bukan berarti terbebas dari tanggung jawab, pekerjaan, atau berbagai persoalan kehidupan. Kemerdekaan hati adalah ketika seseorang tetap menjalani semua itu dengan ikhtiar, tetapi tidak menjadikan harta, jabatan, kenikmatan, maupun penilaian manusia sebagai tempat bergantung.

Menjadi Hamba yang Merdeka

Kajian Tauhid “Merdeka dari Cinta Dunia” menjadi pengingat bagi jamaah untuk kembali menata hati di tengah berbagai godaan kehidupan.

Dunia tetap dapat dimiliki dan dimanfaatkan, selama tidak membuat seseorang lalai terhadap Allah dan tujuan hidupnya. Dengan hati yang bergantung kepada Allah, berbagai nikmat dapat disyukuri dan berbagai kehilangan dapat dihadapi dengan lebih lapang.

Pada akhirnya, kemerdekaan sejati bukan sekadar terbebas dari keterikatan secara lahiriah, tetapi juga kemampuan untuk menjaga hati agar tidak diperbudak oleh dunia.

Dari Masjid Kita Bangkit, Untuk Umat Kita Berkhidmat.

X